RANAH TIGA WARNA
“Ranah Tiga Warna”, buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi ini adalah sebuah buku yang sangat layak mendapatkan apresiasi. Buku ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Alif yang berusaha keras dan sungguh-sungguh menjalani kehidupannya, meraih cita-citanya. Berbagai hikmah yang sangat bermanfaat dapat kita petik dari novel ini.
Jika di buku pertama dari Trilogi Negeri 5 Menara kita mendapatkan pelajaran “Man Jadda Wajada” (siapa yang bersunggung-sungguh akan sukses), maka di buku yang kedua ini ada satu tambahan pelajaran lagi, yaitu “Man Shabara Zhafira” (siapa yang bersabar,akan beruntung). Ternyata keberhasilan, kesuksesan, atau apapun yang bermakna pencapaian itu tidak hanya cukup dengan bersungguh-sungguh, tapi juga harus diiringi konsep sabar.
Buku ini sangat menarik bagi saya, karena menceritakan bagaimana kondisi seorang mahasiswa yang merantau, sama persis dengan apa yang saya rasakan sekarang. Bagaimana besarnya tantangan untuk dapat menjadi seorang penulis, sekaligus bagaimana menjadi seseorang yang dapat membanggakan keluarga. Sebuah karya yang ringan namun padat hikmah, semuanya terangkum dalam kisah hidup Alif di Bandung, Amman, dan Quebec, Kanada.
Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Apa impiannya ? Sangat tinggi. Ia ingin belajar teknologi tinggi di kota Bandung seperti halnya Prof. BJ Habibie, sang mantan presiden ketiga Indonesia. Bahkan ia ingin merantau sampai ke benua Amerika. Dengan semangat yang menggebu-gebu, dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera meneruskan pendidikan ke bangku kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dirinya mampu lulus UMPTN. Ia sadar, ada satu hal penting yang tidak ia miliki. Ijazah SMA. Ya, bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tersebut tanpa ijazah.
Terinspirasi dari semangat tim Denmark, dia pun tidak ingin menyerah begitu saja pada keadaan. Dia selalu percaya, berusahalah diatas rata-rata, maka dia pun belajar siang malam tanpa mengeluh, walau berat, dia tetap teguh, dan alhasil dia lulus ujian penyetaraan dan mendapatkan ijazah SMA. Dia sadar, perjuangan tidak hanya sampai disini, dia masih harus belajar lagi untuk menempuh UMPTN. Setelah beberapa hari belajar, dia sadar bahwa dia tidak mampu dibidang sains, otaknya tidak mampu untuk menangkap semua pelajaran itu. Dengan berat hati, dia mengubah pilihannya, ia memilih ilmu Hubungan Internasional Di Universitas Padjajaran.
Banyak sekali kisah menarik yang terjadi pada diri Alif selama dia duduk di bangku kuliah. Mulai dari belajar menulis dari Bang Togar, musibah ayahnya meninggal, dia harus berjualan untuk menghidupi dirinya, hingga dia mengikuti pertukaran pelajar ke Quebec, Kanada. Sebenarnya dia sangat senang karena bisa belajar bahasa Inggris dengan lebih dalam di Amerika, akan tetapi di Quebec, orang-prang tidak menggunakan bahasa Inggris, melainkan bahasa Perancis. Dan Alif pun akhirnya mahir berbahasa Perancis.
Di buku ini, juga dikisahkan tentang bagaimana kisah asmara Alif dengan seorang perempuan terjalin, hingga akhirnya dia harus merelakan wanita itu karena sudah dilamar duluan oleh Randai. Hidup memang tidak bisa ditebak, dan akhirnya dia pun bahagia dengan istrinya yang sekarang. Buku ini sangat memberikan inspirasi, terlebih lagi disajikan dengan bahasa yang ringan, sehingga mudah dimengerti oleh semua orang. Semoga kita dapat mengambil setiap hikmah yang terdapat pada buku ini.
8:40 AM
Pahlevie




6 comments:
ntar buku selanjutnya apa ya? penasaaaraaan. >< ngga sabar mbaca :D
it's a good book, :)
tunggu aja kelanjutannya, filmnya juga lagi dirilisloh, ntar 2012 diputar :)
yeah, i love that book so much :D
it's an amazing book. :)
Amazing Book
nice shot....
Post a Comment