Wednesday, December 21, 2011

WHO AM I

WHO AM I

Siapakah diri anda? Pertanyaan ini sering terlontarkan pada saat anda mengikuti pelatihan-pelatihan tentang kepemimpinan, kepribadian, dan pelatihan-pelatihan yang sejenisnya. Kita dituntut untuk mengenal dulu siapakah diri kita sebenarnya sebelum kita menjalani hidup ini. Untuk apakah sebenarnya kita harus mengenal diri kita? Dan bagaimanakah dengan orang yang telah terlanjur menjalani hidupnya tetapi mereka belum mengenal siapa diri mereka sebenarnya? Sebenarnya hal yang seperti ini tidak perlu harus terlalu berlebihan ditanggapi. Akan tetapi, bukan juga untuk diacuhkan, sebab mengenal siapa diri kita sebenarnya akan menentukan masa depan kita nantinya.

Apa hubungannya masa depan dengan mengetahui jati diri kita?

Mari kita analogikan dengan perang. Sebelum kita menyerang musuh, tentunya kita harus tahu dulu seluruh informasi dari musuh kita bukan? Kita harus tahu sejauh mana persiapan mereka dalam mengahdapi perang melawan kita. Kita harus tahu strategi yang akan mereka gunakan, berapa jumlah pasukan mereka, siapa pemimpin mereka, kelemahan apa yang bisa kita gunakan untuk menyerang mereka. Dan juga kita harus mengetahui serta mengenal pasukan kita sendiri. Apakah kelebihan dan kelebihan yang dimiliki oleh pasukan kita. Strategi apa yang akan kita gunakan dalam melawan musuh, dan sebagainya.

Begitu juga yang terjadi pada kehidupan ini. Jika kita ingin sukses dalam menjalani hidup, kita harus mengenali terlebih dahulu diri kita, siapakah diri kita yang sebenarnya? Apakah yang kita cari dalam hidup ini? Mengapa kita dilahirkan dalam hidup ini? Kita harus tahu apa kelebihan dan kelemahan yang terdapat pada diri kita. Apa potensi yang dapat kita kembangkan nantinya, apa ancaman yang akan terjadi dengan kelemahan kita, bagaimana kita memperbaiki kelemahan yang ada pada diri kita. Semua itu harus kita lakukan apabila kita ingin menjadi seseorang yang sukses dalam hidup ini. Sekarang, saya harus bisa mengenali terlebih dahulu siapa saya sebenarnya, saya harus menemukan jati diri saya, supaya nantinya saya tidak tersesat dalam menjalani hidup ini dan bisa menjadi seseorang yang sukses dalam segala hal.

Nama saya adalah Muhammad Hafizh Pahlevie, pria kelahiran Aceh, tepatnya di Lhokseumawe. Saya termasuk orang yang beruntung, karena dilahirkan di sebuah keluarga yang bahagia, sangat bahagia kalau bisa dibilang. Dari kecil hidup saya sama seperti kebanyakan orang lainnya, tidak ada yang berbeda. Hanya saja, ada satu hal yang membedakan saya dengan anak-anak lainnya pada masa itu, yaitu sangat aktif dalam segala hal. Waktu kecil, saya anak yang tidak bisa diam sama sekali, harus selalu ada sesuatu yang saya lakukan setiap waktu, tidak ada kata duduk manis dirumah bagi saya. Saya sangat jarang berada dirumah pada saat saya kecil, saya selalu bermain dengan teman-teman saya diluar rumah, pokonya saya tidak betah berada dirumah. Karena tidak banyak yang bisa saya lakukan didalam rumah, terlalu sedikit hal-hal yang bisa saya eksplorasi didalam rumah. Oleh karena itu saya senantiasa berada diluar rumah untuk mencari hal-hal baru yang dapat saya eksplorasi.

Rasa keingintahuan saya terhadap segala sesuatu terbilang cukup besar, baik itu sesuatu yang baik, maupun sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, saya harus bisa membatasi diri dalam mencari tahu tentang sesuatu yang tidak baik. Istilahnya, hanya sekedar tahu saja, tidak lebih daripada itu. Berangkat dari sifat saya yang tidak betah berada didalam rumah, saya pun memulai memasuki dunia sekolah dengan merantau, yaitu pada saat saya menginjak SMA. Rasa ingin tahu saya akan dunia luar yang begitu besar mendorong saya untuk meninggalkan orang tua dan adik-adik saya di tempat saya dibesarkan. Semua itu saya lakukan agar saya dapat melihat bagaimana dunia luar, dan agar saya bisa membuka mata saya bahwa hidup itu bukan hanya terdapat di daderah saya saja.

Saya ingin belajar berbagai hal di masa perantauan saya, saya ingin mendapatkan teman-teman baru sebanyak mungkin. saya ingin menuntut ilmu setinggi mungkin, agar nantinya bisa menjadi orang sukses, agar saya bisa membahagiakan kedua orang tua saya yang telah susah payah membesarkan saya dari kecil. Sudah terlalu banyak yang telah mereka berikan kepada saya, sudah terlalu sering saya menyusahkan mereka, sudah terlalu besar pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk saya. Saya tidak ingin lagi menyusahkan mereka, saya ingin membuat mereka bangga akan diri saya, saya ingin membalas budi kepada mereka. Saya berhtutang hidup kepada mereka.

Untuk itulah, saya merantau jauh-jauh ke ITS untuk menuntut ilmu. Perjalanan ribuan kilometer harus saya tempuh untuk dapat sampai di kampus perjuangan, kampus yang saya cita-citakan. Kampus yang kelak akan membawakan saya menjadi orang yang sukses, kampus yang akan membuat saya bisa membalas budi terhadap orang tua saya, kampus yang akan membuat orang tua saya bangga terhadap anaknya. Semoga apa yang saya cita-citakan dapat terwujud di kampus perjuangan ini, amin ya Rabbal alamin.

0 comments:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting