MENULIS POPULER
Kemampuan menulis populer adalah salah satu kriteria yang harus dipenuhi apabila kita menjadi seorang mahasiswa. Bagaimana caranya? Mari kita lihat.
PEMBACA
Salah satu langkah terpenting dalam menulis populer adalah menyadari
untuk siapa tulisan kita dibaca dan apa tujuannya. Kuncinya: kita
harus paham siapa mereka dan berempati kepada mereka. Berempati
artinya "memudahkan pembaca" bukan menyiksa pembaca, orang-orang yang
telah menyediakan waktu dan mengabaikan kesibukan lain untuk membaca
tulisan kita.
Pembaca media sangat beragam. Tapi, bahkan pembaca koran seperti
Kompas atau majalah seperti Tempo yang relatif terpelajar, harus kita
anggap awam. Maksud saya, pembaca koran dan majalah itu mungkin
seorang bergelar doktor, tapi seorang doktor belum tentu memahami soal
di luar bidang kajiannya. Seorang doktor ekonomi, misalnya, akan awam
dalam bidang hukum atau genetika.
Ukuran awam yang paling mudah: siswa SMA, atau pedagang rokok pinggir jalan. Ketika Anda menulis, bayangkan apakah tulisan Anda itu bisa
mereka pahami?
Cobalah eksperimen: berikan tulisan yang sudah jadi pada pembantu di
rumah Anda. Bisakah dia memahaminya? Eksperimen ini agak ekstrem, tapi
memacu Anda untuk benar-benar menulis populer.
Eksperimen lain: cobalah menulis panduan "cara memasak nasi goreng
udang" untuk istri/suami atau pacar Anda yang tidak pernah memasak,
dan amati apakah mereka bisa menjalankan panduan itu.
SEDERHANA
Ketika menulis, pakailah kalimat dan paragraf sederhana. Jangan
terlalu panjang, jangan kalimat beranak-cucu. Makin panjang kalimat,
makin mudah kita sendiri sebagai penulis tersesat, dan apalagi pembaca.
Masihkah Anda bisa menunjuk mana subyek, mana predikat dan mana obyekdalam kalimat itu? Jika tidak bisa, sederhanakan kalimat. Pecah
kalimat panjang menjadi dua atau mungkin tiga.
Pakailah bahasa sederhana yang kita ambil dari kehidupan sehari-hari
di sekeliling kita. Berbicara dan menulis adalah hal yang sama pada
dasarnya, tapi kita sering memandang bahwa menulis harus berbeda dari
ketika kita bicara sehingga justru mempersulit kita, dan mempersulit
pembaca juga.
Tapi, bukan slang, bahasa untuk komunitas tertentu. Hindari ungkapan
bahasa daerah jika kita menulis untuk publik Indonesia. Hindari
"bahasa gaul" yang dipahami oleh kalangan remaja Jakarta. Keren abis?
Kool banget? Lagi bete gue?
Pakailah struktur tulisan yang sederhana yang memudahkan pembaca
mencernanya.
Struktur PROBLEM-SOLUSI (pertama Anda memaparkan problem, dan
setelahnya menggelar pemecahannya)
HINDARI ISTILAH ASING
Makin hari media kita dipenuhi oleh bahasa asing, terutama Inggris.
Sebagian tak terhindarkan; dunia kita makin sempit dan bahasa
internasional yang paling banyak lalu-lalang memang bahasa Inggris.
Tapi, kita harus sadar bahwa kita sedang berkomunikasi dengan bahasa
Indonesia untuk orang Indonesia.
Carilah padan kata dalam bahasa Indonesia, tapi tetap yang populer dan
mudah dipahami. Saya akan tetap memilih efektif dan efisien ketimbang
"sangkil" dan "mangkus". Saya juga cenderung lebih suka memakai kata
men-"download" ketimbang "mengunduh"; saya akan memakai kata
"mengunduh" jika sudah populer kelak.
Tapi, padan kata saja tidak cukup. Kita harus mencari tahu pengertian
dasar sebuah istilah dan mencoba menjelaskan dalam bahasa kita sendiri
sehingga mudah dimengerti. Seorang penulis populer, misalnya, akan
menghindari kata "inflasi" (karena takkan dipahami pedagang rokok
pinggir jalan), dan cenderung memilih "naiknya harga barang dan jasa".
Seorang penulis populer harus berusaha keras, membaca lebih banyak,
dan mencari tahu lebih gigih. Dia harus menguasai setiap istilah yang
dia pakai. Memakai istilah asing tidak hanya menyulitkan pembaca, tapi
bahkan sering menjadi persembunyian seorang penulis yang malas; mereka
asal mengutip saja istilah yang dia sendiri tidak memahaminya.
HINDARI JARGON, SINGKATAN DAN AKRONIM
Jargon, seperti sudah saya sebut, adalah istilah atau kosakata yang
hanya dipakai dan dipahami di lingkungan tertentu. Lembaga pemerintah adalah salah satu yang paling banyak memproduksi jargon, yang biasanya dikaitkan pula dengan pemakaian singkatan serta akronim. Tapi, kebiasaan buruk ini kini telah menyebar luas ke kalangan akademisi, lembaga swadaya dan bahkan wartawan.
Jargon, akronim dan singkatan paling umum datang dari lingkungan
militer dan polisi—lembaga yang pada umumnya tidak akuntabel. Mereka
memakai jargon, singkatan dan akronim agar kelompok masyarakat lain
tidak paham apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan.
Kita sering mendengar banyak istilah seperti ini tanpa tahu apa makna
sebenarnya: senpi, curas, curat dan sejenisnya. Bahkan jika kita tahu
"curat" adalah akronim dari "pencurian dengan pemberatan" dan "curas"
adalah "pencurian dengan kekerasan", kita tidak bisa membedakannya.
Dalam hidup sehari-hari kita lebih mudah memahami: pencopetan,
perampokan, pembegalan.
Jargon, akronim dan singkatan mempersulit komunikasi yang lancar
antar-berbagai komponen masyarakat. Masing-masing kelompok berbicara
dengan bahasa dan istilah yang hanya dipahami anggotanya. Masyarakat
terpecah dalam pulau-pulau sendiri yang saling asing. Masyarakat sulit
saling-memahami dan sulit mengerahkan upaya bersama untuk keluar dari
kiris mereka.
Jargon, akronim dan singkatan juga sering menjadi tempat persembunyian kebohongan serta kejahatan. Masyarakat akan lebih mudah memahami krisis ekonomi yang melanda negeri ini, misalnya, jika kita mengganti kata "obligasi rekap" (jargon ekonomi) dengan "rakyat Indonesia yang miskin menyumbang Rp 700 triliun untuk para bankir dan konglomerat"
Penulis populer harus berusaha keras menghindari jargon, akronim dan
singkatan. Mereka perlu bekerja keras untuk memakai bahasa dan istilah
yang dipahami secara relatif universal oleh pemakai bahasa Indonesia.
SPESIFIK DAN KONGKRET
Tulisan populer perlu menyajikan sesuatu yang nyata dan spesifik,
bukan pernyataan-pernyata
Banyak pertanyaan pejabat, politikus dan akademisi di media
mengucapkan jargon untuk menghindar dari membuat janji yang kongkret
dan spesifik, atau justru melakukan sesuatu yang sebaliknya.
Kita belum lama ini mendengar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
meluncurkan kebijakan "New Deal". Tak hanya ini problem karena memakai
bahasa Inggris, lebih dari itu kita tidak paham kebijakan kongkret apa
sebenarnya yang terkandung dalam istilah itu.
Kebijakan "New Deal" diperkenalkan Presiden Amerika Franklin Delano
Roosevelt menyusul "Great Depression", krisis ekonomi 1930-an, yang
memicu pengangguran dan kemiskinan hebat. Roosevelt "membangun
kesepakatan baru" dengan rakyatnya lewat kebijakan kongkret memperluas
lapangan kerja, memperbanyak anggaran publik dan mengencangkan peran
negara dalam membela hak-hak orang miskin.
Benarkah "New Deal" Yudhoyono memang isinya kebijakan kongkret
bagaimana mengurangi kemiskinan, memperluas langan kerja dan
memperbesar anggaran publik terutama dalam membantu orang miskin?
DETIL YANG RELEVAN
Menulis populer adalah menulis jelas. Untuk menjadi jelas kita kadang
harus menyajikan sesuatu secara rinci atau mendetil. Tapi, kita harus
ingat bahwa terlalu banyak detil justru sering mengganggu pemahaman
dan kelancaran membaca.
Kita harus memilih detil yang relevan. Tulisan yang penuh
detil-tak-relevan adalah seperti pohon yang terlalu banyak cabang,
sehingga pembaca tidak melihat pohon.
Apakah kita harus menyebut RT/RW tempat terjadinya pembunuhan? Apakah kita relevan menulis nomor polisi sebuah bus yang bertabrakan di jalan
toll dan menewaskan 25 orang? Haruskah kita menulis pasal dan ayat
serta sub-ayat dalam Kitab Hukum Pidana yang dibacakan jaksa dan hakim
di pengadilan?
Jarak Anyer-Panarukan mungkin tepatnya 1.023 km. Tapi, bukankah kita
bisa menulis "jarak Anyer-Panarukan sekitar 1.000 km"? Tingkat kemiskinan di suatu kabupaten mungkin tepatnya 51%. Tapi,
bukankah tidak salah jika kita menulis "sekitar separo penduduk
Kabupaten Wonosobo miskin"?
Detil memang kadang penting. Tapi, jangan sampai detil itu
menyulitkan, seperti sebuah paragraf dalam berita Harian Kompas di bawah:
"Bali pada tahun 2004 memiliki lahan sawah produktif 142.971 hektar,
menyusut sekitar 1.306 hektar dari tahun sebelumnya (2003) yang total
arealnya 144.277 hektar. Tahun 2000 areal sawah Bali seluruh seluas
153.228 hektar."
BUAT ANALOGI
Beberapa konsep dan angka yang abstrak dan ruwet bisa disederhanakan
dalam analogi yang mudah dicerna pembaca. Lahan pekarangan seluas 3 ha misalnya bisa dianalogikan dengan "lahan seluas tiga kali lapangan sepakbola".
Banyak kabupaten di Kalimantan memiliki ukuran sangat luas. Kabupaten
Kasongan di Kalimantan Tengah, misalnya, seluas 17.800 km2. Tapi, kita
bisa menulis untuk pembaca di Jawa dengan begini: "Kabupaten Kasongan
memiliki luas sekitar separo Propinsi Jawa Tengah".
(Ingat: di sini penulis harus menambah riset, mencari tahu berapa luas
Propinsi Jawa Tengah. Menulis populer memang memerlukan usaha lebih
keras.)
KESIMPULAN
Menulis populer adalah menulis dengan kesadaran penuh akan pembaca.
Penulisnya mampu ber-EMPATI kepada pembaca, tidak mempersulit atau
bahkan menyiksa pembaca.
Penulisnya mampu berpikir sederhana. Dia memilih bahasa dan istilah
sederhana dengan tujuan orang memahami apa yang dia tulis, bukan
mengakui kepintarannya.
Tulisan populer justru menuntut penulis untuk benar-benar menguasai
persoalan (dia harus belajar dan membaca lebih banyak) dan bekerja
lebih keras (dia perlu berusaha menyederhanakan sajian, mencari
analogi dan sebagainya).
3:13 AM
Pahlevie










