Wednesday, December 21, 2011

THE BLIND SIDE



THE BLIND SIDE


“The Blind Side”, film yang berdasarkan kisah nyata ini difilmkan oleh Baltimore Ravens. Becerita tentang seorang anak muda bernama Michael Oher (Quinton Aaron) yang tumbuh di perumahan dalam kota bersama Ibunya di Memphis, tempat tinggal orang-orang berkulit hitam bernama “Hurt Village”. Cerita Michael dimulai dari dia menjadi tunawisma dari broken home dengan seorang Ibu yang kecanduan narkoba dan seorang Ayah yang tidak bertanggung jawab dalam keluarganya. Karena keadaan keluarganya, seorang keluarga dari tukang service mengambil alih hidupnya ketika Michael tumbuh dewasa. Sayangnya, ia sedang terombang ambing dengan masalah orang tua asuh baru dan sekarang dia merasa masa remajanya telah terenggut oleh waktu sehingga dia lebih senang kehilangan tempat tinggal dan hidup sendirian berbekal secarik baju yang dia kenakan. Dengan keberuntungan, seorang pelatih football menginginkan pemain seukuran Michael, dan akhirnya dia didaftarkan di sebuah sekolah Kristen Swasta di mana anak dari keluarga Tuohy bersekolah di situ juga. Michael adalah seorang anak yang pembawaannya tenang, terbukti memiliki kepribadian kekanak-kanakan, karena dia mencoba bermain dengan anak-anak TK dan di abaikan oleh anak TK tersebut. Kemudian Michael berteman dengan S.J. Tuohy (Jae Head) anak termuda dari keluarga Tuohy yang mengenalkan pada dunia bola.

Pada suatu malam di musim dingin, Michael berjalan sendirian menuju gedung olahraga yang berada di lingkungan sekolah, dimana tempat dia tidur dan menghangatkan badan dari dinginnya hawa musim dingin. Michael bertemu Leigh Anne Tuohy (Sandra Bullock) dengan Suaminya, Sean (Tim McGraw) beserta putra-putrinya Jae dan Collins (Lily Collins) kemudian Michael di ajak pulang untuk bermalam di rumah keluarga Tuohy. Namun, Sean menolaknya dengan menayakan kepada istrinya “apakah dia akan tinggal di sini untuk selamanya?” meskipun anak-anaknya menerima Michael tanpa masalah yang berbelit-belit. Segera, Leigh Anne menyiapkan kamar dan tempat tidur untuk Michael. Ketika ia mulai nyaman tinggal di rumah baru keluarga Tuohy, Leigh Anne mencari informasi data diri Michael, dan hasil positif yang hanya guru bisa katakan tentang dia adalah bahwa dia memiliki naluri protektif yang sangat kuat. kemudian Leigh Anne menjelaskan padanya bagaimana cara bermain di lapangan. Sampai sejauh itu dia tidak bisa memahami permainan dan peraturannya, dan ia tidak mampu memahami sebagai apa perannya di lapangan itu.

Sejak saat itu Michael mulai bermain dengan baik dan berguna bagi timnya. Pada foto kartu Natal tahun lalu Michael ikut foto bersama dalam foto kelurga Tuohy yang kemudian di bagi-bagikan ke teman-teman dekat Leigh Anne. Ketika teman Leigh Anne, Beth (Rhoda Griffs), Elaine (Eaddy mays) dan Sherry (Asley Leconte Campbell) bertemu secara teratur di sebuah restoran mahal di kota. Semua teman-temannya tertawa tentang “Proyek dalam proyek” Leigh Anne buat. Tapi dia mengatakan bahwa jika teman mereka tidak menghargai apa yang ia lakukan, sebaiknya mulai dari sekarang berhenti menemui mereka.

Sebuah peluang muncul bagi Michael untuk bermain di tingkat Universitas. namun, ia perlu untuk memperbaiki nilai-nilainya. Sehingga keluarga Tuohy menyewa seorang guru privat Miss Sue (Kathy bates) untuk mengajarkan kepada Michael supaya berhasil dalam pelajarannya. Selama mereka belajar, saat pelajaran Geografi Miss Sue membuat komentar bodoh tentang beberapa Universitas telah mengubur mayat orang mati di lapangan football mereka, dan nampaknya Michael percaya cerita itu.Ada sebuah kejadian ketika Leigh Anne ingin melakukan percakapan tatap muka dengan Ibu kandung Michael (Adriane Lenox). Meskipun ia tampak tidak responsif pada awalnya, akhirnya sang Ibu kandung Michael menginginkan anaknya yang terbaik. Dia mengatakan kalau Michael telah di cap sebagai “anak pelarian” oleh Pelayanan masyarakat Sosial, dan dia berharap agar Leigh Anne menemukan solusinya. Leigh Anne juga menghadapi beberapa orang dari perumahan “Hurt Village” dan rata-rata dari mereka tidak berkata apa-apa tentang Michael dan dia mengancam mereka kalau dirinya di situasi yang benar dan tidak takut sama sekali.

3 Universitas terbaik menginginkan Michael. S.J. Berbicara dengan pelatih, dan memimpin negosiasi atas nama Michael. Ketika michael mendapatkan nilai-nilainya yang cukup tinggi, ia harus membuat keputusan, dan dia memutuskannya. Dia memilih Universitas dimana duluanya adalah tempat bermain Sean, dan Anne Leigh sebagai pemandu soraknya. Ini menyebabkan Granger (Sharon Morris) memeriksa Michael di kantor polisi dan memberikan berbagai pertanyaan yang menyudutkan Michael. Dia menduga kalau Keluarga Tuohy dan Miss Sue telah sekongkol memanfaatkan Michael demi keuntungan Universitas tersebut.

Setelah berfikir dan mempertanyakan Leigh Anne tentang masalah ini, Michael menyadari bahwa sekarang Tuohy adalah keluarganya, dan ia mengatakan pada Granger bahwa itulah alasan baginya untuk memilih Universitas itu. Film ini berakhir dengan Michael menjadi pemain profesional yang terkenal. Sungguh suatu pelajaran yang sangat berharga dapat kita ambil dari kisah hidup si Mike. Dari seorang yang hidupnya tidak jelas terlunta-lunta kesana kemari, hingga menjadi seorang pemain terkenal. Semoga kita dapat mengambil setiap hikmah yang ada pada film ini.

Tuesday, December 20, 2011

Ranah Tiga Warna



RANAH TIGA WARNA

“Ranah Tiga Warna”, buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi ini adalah sebuah buku yang sangat layak mendapatkan apresiasi. Buku ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Alif yang berusaha keras dan sungguh-sungguh menjalani kehidupannya, meraih cita-citanya. Berbagai hikmah yang sangat bermanfaat dapat kita petik dari novel ini.

Jika di buku pertama dari Trilogi Negeri 5 Menara kita mendapatkan pelajaran “Man Jadda Wajada” (siapa yang bersunggung-sungguh akan sukses), maka di buku yang kedua ini ada satu tambahan pelajaran lagi, yaitu “Man Shabara Zhafira” (siapa yang bersabar,akan beruntung). Ternyata keberhasilan, kesuksesan, atau apapun yang bermakna pencapaian itu tidak hanya cukup dengan bersungguh-sungguh, tapi juga harus diiringi konsep sabar.

Buku ini sangat menarik bagi saya, karena menceritakan bagaimana kondisi seorang mahasiswa yang merantau, sama persis dengan apa yang saya rasakan sekarang. Bagaimana besarnya tantangan untuk dapat menjadi seorang penulis, sekaligus bagaimana menjadi seseorang yang dapat membanggakan keluarga. Sebuah karya yang ringan namun padat hikmah, semuanya terangkum dalam kisah hidup Alif di Bandung, Amman, dan Quebec, Kanada.

Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Apa impiannya ? Sangat tinggi. Ia ingin belajar teknologi tinggi di kota Bandung seperti halnya Prof. BJ Habibie, sang mantan presiden ketiga Indonesia. Bahkan ia ingin merantau sampai ke benua Amerika. Dengan semangat yang menggebu-gebu, dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera meneruskan pendidikan ke bangku kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dirinya mampu lulus UMPTN. Ia sadar, ada satu hal penting yang tidak ia miliki. Ijazah SMA. Ya, bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tersebut tanpa ijazah.

Terinspirasi dari semangat tim Denmark, dia pun tidak ingin menyerah begitu saja pada keadaan. Dia selalu percaya, berusahalah diatas rata-rata, maka dia pun belajar siang malam tanpa mengeluh, walau berat, dia tetap teguh, dan alhasil dia lulus ujian penyetaraan dan mendapatkan ijazah SMA. Dia sadar, perjuangan tidak hanya sampai disini, dia masih harus belajar lagi untuk menempuh UMPTN. Setelah beberapa hari belajar, dia sadar bahwa dia tidak mampu dibidang sains, otaknya tidak mampu untuk menangkap semua pelajaran itu. Dengan berat hati, dia mengubah pilihannya, ia memilih ilmu Hubungan Internasional Di Universitas Padjajaran.

Banyak sekali kisah menarik yang terjadi pada diri Alif selama dia duduk di bangku kuliah. Mulai dari belajar menulis dari Bang Togar, musibah ayahnya meninggal, dia harus berjualan untuk menghidupi dirinya, hingga dia mengikuti pertukaran pelajar ke Quebec, Kanada. Sebenarnya dia sangat senang karena bisa belajar bahasa Inggris dengan lebih dalam di Amerika, akan tetapi di Quebec, orang-prang tidak menggunakan bahasa Inggris, melainkan bahasa Perancis. Dan Alif pun akhirnya mahir berbahasa Perancis.

Di buku ini, juga dikisahkan tentang bagaimana kisah asmara Alif dengan seorang perempuan terjalin, hingga akhirnya dia harus merelakan wanita itu karena sudah dilamar duluan oleh Randai. Hidup memang tidak bisa ditebak, dan akhirnya dia pun bahagia dengan istrinya yang sekarang. Buku ini sangat memberikan inspirasi, terlebih lagi disajikan dengan bahasa yang ringan, sehingga mudah dimengerti oleh semua orang. Semoga kita dapat mengambil setiap hikmah yang terdapat pada buku ini.

NEGERI 5 MENARA



NEGERI 5 MENARA

“Negeri 5 Menara”, sebuah buku novel karangan Ahmad Fuadi yang sangat menginspirasi orang banyak. Ia mengisahkan tentang pengalaman hidupnya yang sangat menarik untuk diceritakan. Dikemas dengan bahasa yang ringan, sehingga mudah dipahami oleh seluruh pembacanya. Tidak terdapat bahasa yang terkesan lebay, seperti yang banyak terdapat pada novel lain.

Alif Fikri yang berasal dari Maninjau, Bukittinggi, adalah seorang anak desa yang sangat pintar. Ia dan teman baiknya, Randai, memiliki mimpi yang sama, masuk ke SMA dan melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB), Selama ini mereka bersekolah di madrasah atau sekolah agama Islam. Mereka merasa sudah cukup menerima ajaran Islam dan ingin menikmati masa remaja mereka seperti anak-anak remaja lainnya di SMA. Alif mendapat nilai tertinggi di sekolahnya yang membuatnya merasa akan lebih terbuka kesempatan untuk Amak (Ibu) memperbolehkannya masuk sekolah biasa, bukan madrasah lagi. Namun Amak menghapus mimpinya masuk SMA. “Beberapa orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah agama karena tidak cukup uang untuk masuk ke SMP atau SMA. Lebih banyak lagi yang memasukkan anaknya ke sekolah agama karena nilainya tidak cukup. Bagaimana kualitas para buya, ustad, dan dai tamatan madrasah kita nanti? Bagaimana nasib Islam nanti? Waang punya potensi yang tinggi. Amak berharap Waang menjadi pemimpin agama yang mampu membina umatnya,” kata Amak yang membuat harapan anaknya masuk SMA pupus.

Dengan membaca pembuka novel tersebut, dapat dengan mudah kita menerka nuansa apa yang akan kita rasakan sampai pada selesainya novel ini. Ya, nuansa Islam. Pembukaan ini merupakan pembukaan yang baik di mana pembaca dapat berharap banyak dan berimajinasi akan jadi apa Alif ini. Pemimpin negara? Atau pemimpin besar agama? Sayangnya sampai akhir, penulis kurang mampu memperlihatkan dinamika dalam cerita. Klimaks cerita kurang menonjol sehingga pembaca merasa dinamika cerita sedikit datar. Setelah selesai membaca, pembaca akan merasa cerita belum selesai setuntas-tuntasnya. Hal ini mungkin disebabkan karena penulis mendasarkan ceritanya pada kisah nyata dan tidak ingin melebih-lebihkannya

Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sangat menarik. Ringan, deskriptif, dan mengalir serta mampu memperkaya kosakata dan wawasan berbagai macam bahasa daerah. Di dalam novel ini terdapat bahasa daerah Maninjau, Medan, Sunda, dan Arab. Tidak tertinggal catatan kaki di bagian bawah yang menjelaskan arti dari kata tersebut. Ungkapan-ungkapan dan peribahasa juga terdapat dalam penulisannya, seperti “man jadda wajada” yang paling sering dicantumkan. “Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.” Ungkapan-ungkapan seperti ini sangat penting dalam sebuah novel karena mampu memberikan semacam trade mark yang membuat novel ini lebih terkenang di hati pembaca.

Novel ini menceritakan berbagai kisah sederhana kehidupan di Pondok Madani, pesantren modern yang akhirnya menampung Alif di dalamnya. Suka, duka, persahabatan, dan pengajaran-pengajaran PM yang sederhana namun mengena. PM berbeda dengan sekolah agama lainnya karena di sini para murid dilatih untuk menjadi intelektual dan mampu menganalisa berbagai ilmu dari sudut pandang Islam. Sehari-harinya mereka wajib menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Jika melanggar, tidak mungkin tidak terlepas dari hukuman. PM sangat ketat dengan pengawasan dan kedisiplinannya.

Biarpun masuk karena terpaksa, namun Alif mulai menyukai kehidupan di pondok. Terlebih lagi, ia sangat menikmati hidup persahabatannya dengan Sahibul Menara – sebuah sebutan penghuni PM terhadap Alif dan 5 teman lainnya – yang selalu berkumpul di bawah menara tertinggi di Pondok Madani. Mereka adalah Said, Baso, Raja, dan Atang. Persahabatan lekat yang dijalin bersama sangat cukup menjadi penghiburan bagi Alif. Tapi di satu sisi ada kegelisahan mengetahui teman baiknya – Randai – sudah masuk SMA terbaik yang pernah mereka idamkan bersama, sudah melewati masa SMA dengan penuh tawa, dan dengan bahagia berhasil merebut impian mereka tertinggi: masuk universitas di ITB. Pertanyaan “jadi apa aku nanti?” terus terngiang dalam kepalanya mengingat ijazah PM tidak diakui walaupun sangat diakui di luar negeri.

Satu lagi kelebihan novel ini. Pembaca tidak akan bosan membaca kehidupan di pondok karena penulis rupaya menggunakan alur campuran. Ia memulai cerita dengan mengambil setting Alif yang sudah bekerja lalu mulai masuk ke dalam ingatan-ingatan Alif akan kehidupannya dulu di Pondok Madani. Setelah cukup panjang menceritakan tentang pondok, ia mulai beralih lagi ke kehidupan Alif masa sekarang.

Novel ini dapat menjadi satu pengharapan bagi Indonesia, ternyata banyak penulis-penulis Indonesia yang memiliki potensi luar biasa seperti yang dimilik oleh Ahmad Fuadi. Mari kita dukung terus supaya Iindonesia bisa menunjukkan taringnya ke dunia luar. Dan sekedar catatan, saya pernah bertemu dengan Ahmad Fuadi ketika dia sedang berlibur di Sabang, Aceh.

The Transporter



THE TRANSPORTER

Transporter (Le Transporteur) adalah film aksi Perancis yang disutradarai Louis Leterrier & Corey Yuen, dan ditulis oleh Luc Besson, yang terinspirasi oleh BMW Films' The Hire series. Film ini dirilis di Perancis pada tanggal 2 Oktober 2002 dan di Amerika Serikat pada 11 Oktober 2002. Ini adalah film pertama dari tiga seri, yaitu Transporter 2 dan Transporter 3.

Film ini dibintangi Jason Statham sebagai Frank Martin, seorang sopir yang disewa untuk mengantarkan barang, tapi bukan sembarang barang. Dia bekerja untuk siapa saja yang sanggup membayar jasanya. Dia memiliki tiga peraturan dalam bekerja. Peraturan pertama “a deal is a deal”, peraturan kedua “no names”, dan peraturan ketiga “never open the package”. Dia bekerja sangat profesional dengan peraturan yang dibuatnya. Orang mengatakan bahwa peraturan ada untuk dilanggar, namun tidak baginya.

Di aksinya yang pertama, disewa untuk mengangkut "Tiga orang, 254 kilo." Tapi, bukan tiga orang yang masuk ke mobilnya, melainkan empat orang, mereka adalah perampok bank. Frank menolak untuk mengemudi, dia berkata "a deal is a deal", peraturan nomor 1. Setelah itu, salah satu anggota geng membunuh temannya yang lain, Frank pun lalu memulai mengemudi. Dia mengecoh semua petugas polisi agar mereka tidak ditangkap. Dan mereka pun berhasil lolos dari kejaran poisi, kesepakatan berjalan lancar.

Di aksinya yang selanjutnya, Frank disewa untuk mengirimkan paket ke sebuah gangster Amerika (Matt Schulze) yang dikenal sebagai "Wall Street." Saat mengganti ban kempes di jalan ke Wall Street, ia melanggar salah satu aturan dan membuka paket yang ditempatkan di bagasinya. Isi paket itu ternyata adalah seorang wanita keturunan Cina. Dia mengirimkan paket seperti yang dijanjikan, tetapi tampaknya si penerima curiga bahwa Frank telah membuka isi paket tersebut. Saat dia pergi, Wall Street meminta Frank lagi untuk mengirmkan sebuah koper, dan ternyata isi koper tersebut adalah sebuah bom.

Frank kemudian kembali ke kediaman Wall Street dengan berang, menghancurkan rumahnya dan mengambil sebuah mobil. Dan ternyata, wanita yang berada di dalam paket itu ada di mobil yang dicurinya itu. Frank berniat untuk meninggalkan wanita tersebut ditengah jalan, tapi dia tak tega, dan dia pun membawa pulang wanita tersebut. Wanita ini bernama Lai, ia adalah seorang anak yang ayahnya bekerja dalam human traficcking (perdagangan manusia). Lai ingin menghentikan aksi ayahnya untuk menjual manusia, dan Frank pun ikut membantu Lai, walaupun sebenarnya dia tidak ingin terlibat pada masalah ini.

Film berakhir dengan tragis, ai menembak mati ayahnya sendiri, salah satu dari dua kontainer sandera dibebaskan, Frank dan Lai bersatu kembali dengan gembira. Itulah sekilas tentang film “The Transporter”, film ini memang penuh dengan aksi, sangat cocok diperankan oleh Jason Statham. Aksi tembak menembak pun sangat natural, tidak ada yang kelihatan dibuat-buat. Semoga nantinya perfilman Indonesia bisa sebaik perfilman Hollywood. Amin.

Pentingnya Public Speaking



Pentingnya Public Speaking

Pada suatu masa, terdapat dua orang entrepreneur muda yang akan mempresentasikan produk dari usaha yang mereka miliki ke suatu perusahaan besar yang akan membiayai produk mereka nantinya. Entrepreneur pertama memiliki produk yang luar biasa, ide yang ia miliki sungguh sangat unk, belum ada yang pernah membuat produk sperti yang dibuat olehnya. Akan tetapi, pada saat presentasi, ia mempromosikan produknya dengan biasa saja, seakan- akan tidak ada yang istimewa dari produknya tersebut.

Sedangkan entrepreneur yang kedua, ia memiliki produk yang biasa – biasa saja, bahkan bisa dibilang produk yang ia miliki hanya sedikit memodifikasi dari sebuah produk yang ada. Akan tetapi, ia mempresentasikan produknya dengan sangat luar biasa menarik, bahkan orang yang mendengarkannya sampai tercengang. Mereka terkagum – kagum dengan cara ia berbicara, dengan cara ia menyampaikan keunggulan dari produk miliknya tersebut.Alhasil, perusahaan tersebut memilih untuk membiayai produk yang presentasikan oleh si entrepreneur kedua. Mereka percaya bahwa produk terebut dapat membawa keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan mereka.

Dari kejadian daitas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa public speaking adalah suatu hal yang mutlak harus dimiliki oleh setiap orang. Dengan kemampuan public speaking yang baik, kita bisa membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Jika kita melihat si entrepreneur pertama dia memiliki produk yang luar biasa, hanya saja dia tidak mampu untuk menyampaikan kehebatan produknya tersebut kepada orang. Padahal, produk enterpreneur kedua jelas kalah telak dengan produk entrepreneur pertama. Apa daya, si entrepreneur pertama tidak bisa memperkenalkan produknya tersebut.

Teman, perlu kita ketahui, sangat banyak orang pintar dan luar biasa yang ada di sekitar kita, hanya saja mereka tidak tahu bagaimana caranya agar orang – orang tahu. Jangankan orang di sekitar kita, bahkan diri kita sendiri adalah sesorang pribadi yang hebat, sayangnya kita tidak mampu untuk memberitahukannya kepada orang. Hal inilah yang hatus kita perbaiki mulai dari sekarang. Public speaking menjadi hal yang wajib dimiliki oleh setiap orang di zaman sekarang. Kita dituntut untuk memiliki kemampuan ini agar setiap ide yang ingin kita sampaikan dapat tersampaikan dengan baik.

So guys, marilah kita belajar untuk meningkatkan kemampuan public speaking kita mulai dari sekarang,. Karena percayalah, kita akan merasa sangat beruntung jika sudah memiliki kemampuan public speaking yang mantap!

ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI



ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI

Alangkah Lucunya Negeri Ini, sebuah karya film yang disutradarai oleh Deddy Mizwar ini mengangkat tentang hal yang tengah hangat dan sangat diperbincangkan saat ini, yaitu realita kehidupan yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Mulai dari kehidupan anak jalanan, pencopet, DPR, korupsi, pengangguran, dan kehidupan masyarakat golongan bawah.

Muluk (Reza Rahadian) sudah dua tahun lulus dari menjadi sarjana manajemen, tetapi karena persaingan dalam mencari pekerjaan sangatlah ketat, dan kurang dibutuhkannya sarjana manajemen, ia pun tak mendapatkan pekerjaan. Ini diperlihatkan pada tayangan di awal film dimana pada saat Muluk melamar pekerjaaan ke sebuah perusahaan yang akan bangkrut, dia ditolak mentah-mentah oleh pemimpin perusahaan itu. Sudah terlalu banyak cara-cara manajemen yang diterapkan di perusahaan itu yang diambil dari buku-buku yang ditulis oleh penulis terkenal, mulai dari ilmu manajemen dari Amerika, Cina, Jepang, dan Arab, tetapi hasilnya nihil, perusahaan itu tetap saja bangkrut. Alhasil, Muluk sudah 2 tahun menjadi pengangguran.

Pada saat Muluk berjalan dipasar, ia melihat sekawanan pencopet sedang beraksi. Mereka terdiri dari beberapa orang, dan menggunakan cara yang ampuh dalam mencopet. Lalu Muluk pun menangkap pencopet yang bernama Komet (Angga) itu, akan tetapi ia melepasnya lagi. Terbesit di pikiran Muluk, bahwa ia ingin mengubah kehidupan dari para pencopet itu menjadi lebih baik. Ia ingin mereka dapat hidup dari cara yang halal, bukan malah mengambil yang bukan menjadi hak mereka.

Muluk pun pergi ke markas sang pencopet, dengan ditemani Komet, ia dikenalkan dengan bos mereka, pimpinan dari sekelompok pencopet anak-anak yang sering beraksi di tengah masayarakat, yaitu Jarot (Tio Pakusadewo). Muluk kemudian menawarkan sebuah kerjasama pada Jarot. Ia akan melakukan sistem manajemen terhadap setiap penghasilan yang didapat dari hasil mencopet setiap harinya. Muluk menjelaskan, dengan cara ini, maka sedikit demi sedikit, uang tersebut akan terkumpul dan para pencopet cilik tersebut nantinya dapat membuka sebuah usaha yang halal dan tak perlu lagi mencopet.

Dengan mengenakan biaya 10% dari hasil setiap mencopet akan diberikan pada Muluk, Jarot pun setuju menjalani kerjasama tersebut. Akan tetapi para pencopet cilik tidak setuju dengan kerjasama itu, mereka berdalih, mereka yang capai-capai bekerja, menanggung resiko kalau ketahuan, malah hasilnya diberikan pada Muluk. Tapi Jarot tidak memperdulikan alasan mereka, ini semua demi kebaikan para pencopet cilik itu.

Kesepakatan pun dijalin, hari demi hari berlalu dan sistem yang diterapkan oleh Muluk berjalan dengan sangat lancer. Bahkan sekarang Muluk bisa membeli sepeda motor dan memiliki tabungan sebesar 11 juta dari hasil mencopet. Muluk pun mengajak 2 temannya Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan) yang sesama pangangguran untuk mengajari anak-anak tersebut mengenai agama dan pendidikan. Pipit selama ini kerjanya hanya mengirim surat untuk mendapatkan hadiah dari kuis-kuis yang ada di televisi. Sedangkan Samsul kerjanya hanya main domino bersama teman-temannya di pos ronda.

Muluk ingin anak-anak tersebut memiliki pendidikan, bukan hanya mencopet saja. Walaupun mendapat tentangan sebelumya, alhasil Muluk berhasil mengajari mereka ilmu agama dan pendidikan. Mereka diajari tentang shalat, menulis, membaca, Pancasila, UUD, dll.

Kini para pencopet cilik itu bukan lagi pencopet yang tidak memiliki pendidikan, mereka sudah dibekali dengan ilmu agama dan kewarganegaraan. Kini sebagian dari pencopet tersebut akan beralih menjadi pengasong, sebuah angkah baru menuju kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, mereka tetap tidak ingin menjadi pengasong, mereka masih memilih untuk menjadi pencopet karena hasil yang didapat jauh lebih besar daripada sekedar mengasong.

Muluk berbohong kepada orang tuanya mengenai pekerjaannya, ia mengatakan bahwa ia bekerja di suatu perusahaan dan ia bekerja di bidang Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Sampai pada suatu hari, ayahnya (Dedy Mizwar) beserta teman-temannya ingin datang ketempat Muluk bekerja. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat bahwa yang selama ini dilakukan oleh Muluk dkk adalah memberdayakan pencopet, bukan pekerjaan yang halal.

Ayahnya pun sedih mengetahui bahwa yang selam ini dilakukan oleh Muluk adalah pekerjaan yang haram. Dan sekarang para pencopet itu kembali ke masa kelamnya, yaitu melanjutkan pekerjaan mereka sebagai mpencopet. Namun, Komet dan sebagian anak buahnya memilih untuk berhenti menjadi pencopet. Mereka memulai hidup baru dengan menjadi pengasong. Walaupun berat yang dirasakan, mereka tetap tidak menyerah. Karena mereka yakin bahwa menjadi pengasong lebih baik daripada menjadi pencopet.

Muluk pun memutuskan untuk berhenti memberdayakan para pencopet itu. Ia lalu belajar menyetir untuk nantinya menjadi TKI di Arab. Pipit kini kembali mengirim surat ke berbagai tempat agar mendapat hadiah. Dan Samsul pun kembali menjadi pemuda yang tidak pernah bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, ia kembali bermain domino.

Kisah dari Alangkah Lucunya Negeri Ini menunjukkan realita kehidupan yang terjadi saat ini di Indonesia. Dimana pengangguran, anak jalanan, pencopet, dll merajalela ditengah masyarakat. Film ini juga menggambarkan wajah daripada DPR, yaitu korupsi, laptop, dll. Hal dikerjakan oleh Muluk adalah sesuatu yang sangat mulia, ia ingin mengubah jalan hidup orang-orang yang telah melenceng untuk kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi, caranya yang salah. Tidak seharusnya ia memberdayakan para pencopet untuk mencopet, masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mengubah hidup mereka selain mencopet.

Film ini juga menampilkan rasa nasionalisme kepada kita, yaitu adegan pada saat Muluk dkk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”. Kita dapat bercermin pada wajah Indonesia sekarang, betapa rusaknya wajah Indonesia sekarang. Korupsi merajalela, kemiskinan dimana-mana, kriminal, kelaparan, dll. Tapi kita tidak boleh hanya mengkritik saja apa yang terjadi pada Indonesia. Kita harus berbuat sesuatu untuk bangsa kita tercinta, walau sekecil apapun itu. Karena perubahan besar selalu dimluai dengan langkah yang kecil.

Sunday, December 18, 2011

Jika Aku Menjadi Presiden



JIKA AKU MENJADI PRESIDEN



“Presiden”, sebuah kata yang tidak asing lagi bagi kita. Sebuah kata yang melambangkan sosok seorang pemimpin, pemimpin suatu bangsa, pemimpin dari berjuta umat manusia, pemimpin rumah tangga negara. Presiden, seorang manusia yang memikul tanggung jawab berat atas masyarakat yang telah memilihnya, atas negara yang dipimpinnya. Mengapa banyak sekali orang yang berhasrat untuk menjadi seorang presiden? Padahal jika dilihat lebih dalam lagi, sungguh sangat tidak enak menjadi seorang presiden.

Seorang presiden memikul beban yang sangat berat atas jabatan yang didudukinya, ia harus membawa negara beserta rakyatnya menuju kesejahteraan. Bertanggung jawab atas nasib negaranya kelak, bertanggung jawab atas krisis yang dihadapi, bertanggung jawab atas apa saja yang terjadi pada negara yang dipimpinnya. Sungguh sebuah jabatan yang sangat mengerikan untuk diduduki. Tetapi sekali lagi, “Mengapa orang–orang berlomba untuk menjadi seorang presiden?”.

Apakah mereka tidak tahu atas tanggung jawab yang harus mereka pikul setelah mereka menjadi presiden? Apakah mereka tidak tahu atas apa yang akan terjadi pada diri mereka apabila mereka berbuat kesalahan dalam memimpin rakyatnya? Apakah mereka hanya ingin memperkaya diri dengan menggunakan embel-embel “Presiden”? Akan tetapi, dibalik semua itu, menjadi seorang presiden adalah suatu tugas yang sangat mulia, sungguh suatu kehormatan yang sangat besar menjadi orang yang dipercaya oleh rakyatnya untuk membimbing mereka menuju jalan kesejahteraan.

Bayangkan, sungguh mulia hati seorang presiden, ia rela waktunya dimakan, ia rela tenaganya dikuras, ia rela mengorbankan kehidupannya, istrinya, anaknya, dan semua itu dilakukan semata–mata demi kepentingan rakyatnya. Sebagai contoh, mari kita lihat presiden kita sekarang, Susilo Bambang Yudhoyono. Penampilannya berubah setelah ia diangkat menjadi presiden, kantung matanya sudah turun, menandakan bahwa ia tidak cukup tidur. Ia didera stres, karena harus memikirkan nasib rakyatnya, masih banyak rakyatnya yang hidup secara tidak layak, kemiskinan dimana–mana, korupsi merajalela, ditambah lagi, ia harus menepati janji – janji yang telah diucapkannya pada saat dahulu.

Sekarang saya akan memposisikan diri saya sebagai seorang presiden, menjadi orang nomor satu di seluruh penjuru tanah air Indonesia. Apa saja yang akan saya lakukan jika saya menjadi seorang presiden? Sanggupkah saya bertanggung jawab atas rakyat–rakyat yang saya pimpin? Sanggupkah saya memikul beban yang ditaruh diatas pundak saya?

Jujur, saya tidak sanggup untuk memikul semua beban itu sendirian, saya membutuhkan orang–orang yang memiliki loyalitas tinggi dan dapat dipercaya untuk menjalankan amanah besar ini. Untuk itu, yang pertama kali akan saya lakukan apabila saya menjadi seorang presiden adalah, memilih orang–orang yang benar–benar mempunyai rasa memiliki atas negaranya. Orang-orang seperti ini tidak akan sanggup untuk mengkhianati negaranya, mengkhianati orang-orang yang telah percaya kepadanya, mengkhianati amanah yang telah diberikan kepadanya.

Oleh karena itu, saya akan mengadakan sebuah training khusus untuk seluruh wakil rakyat yang ada di Indonesia. Training yang akan membuka pintu hati mereka, training yang akan menanamkan spiritual yang tinggi, bahwa mereka tidak butuh kemewahan, uang, jabatan, dan hal-hal lain yang memuja memuji kehidupan yang fana ini. Saya ingin mereka memahami arti menjadi seorang khalifah, wakil dari rakyat mereka, orang yang menjadi yang kepercayaan rakyatna, orang yang menjadi tempat mengadu, dan orang yang akan memberikan perlindungan terhadap rakyatnya.

Setelah saya mendapatkan orang-orang tersebut, saya beralih kepada rakyat yang telah mempercayakan diri saya untuk membimbing mereka menuju kesejahteraan. Yang ingin saya tanamkan pada rakyat saya adalah, rasa nasionalisme, rasa memiliki atas negara tempat mereka tinggal, rasa kekeluargaan yang tinggi. Nasionalisme disini bukan dalam arti yang sempit, tapi rasa memiliki yang haqiqi, menyadari bahwa kita semua adalah suatu keluarga besar, yang tidak bisa menjalani hidup jika sendirian.

Saya menyadari bahwa hal tersebut sungguh sangat sulit untuk dicapai, bahkan mungkin hampir mustahil untuk dilakukan. Akan tetapi, suatu perubahan besar selalu dimulai dari langkah yang kecil. Sesulit apapun itu, insya Allah saya akan tetap memperjuangkan amanah ini, walau apapun yang akan terjadi. Karena dengan mewujudkan 2 hal yang saya akan lakukan tadi, niscaya negara ini akan menuju kesejahteraan yang haqiqi.

Tidak akan terjadi krisis ekonomi, krisis bahan bakar, krisis pangan, korupsi, kemiskinan, kelaparan, kriminal, dan banyak lagi persoalan-persoalan yang tengah dihadapi oleh negara-negara diseluruh penjuru dunia. Karena kita semua bersinergi melakukan segalanya dengan hati yang ikhlas, dengan rasa saling memiliki,serta dengan hati yang suci. Allah tidak akan mencelakakan hambanya, kecuali mereka yang memintanya.

Semoga terwujud sebuah negara yang menjadi impian semua orang, negara dengan tanpa krisis, tanpa kriminal, negara yang makmur sentosa. Dan semoga kita semua mamiliki rasa nasionalisme yang haqiqi. Amin.

Muhammad Hafizh Pahlevie

5211100172

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting